Skip to main content

PT. Multi Karya Panelindo

Di industri manufaktur modern, kontaminasi berupa partikel, mikroorganisme, maupun zat lain yang terbawa udara dapat memengaruhi kualitas dan konsistensi produk. Karena itu, clean room (ruang bersih) digunakan pada berbagai proses manufaktur yang membutuhkan pengendalian lingkungan secara ketat, termasuk industri farmasi, alat kesehatan, elektronik, semikonduktor, optik, dan sektor lainnya.

Clean room tidak hanya berkaitan dengan kebersihan ruangan secara kasatmata. Sistem ini dirancang untuk mengendalikan konsentrasi partikel di udara serta parameter lingkungan tertentu sesuai kebutuhan proses produksi.

Lantas, mengapa clean room sangat penting bagi pabrik dan bagaimana standar ISO 14644 berperan dalam menentukan tingkat kebersihannya?

Mengapa Pabrik Membutuhkan Clean Room?

Kebutuhan clean room bergantung pada karakteristik produk, proses manufaktur, risiko kontaminasi, serta persyaratan regulasi yang berlaku pada industri tersebut.

Secara umum, clean room digunakan untuk membantu:

  1. Mengendalikan kontaminasi selama proses produksi.
  2. Menjaga konsistensi dan kualitas produk.
  3. Melindungi proses atau produk yang sensitif terhadap partikel.
  4. Mengurangi risiko kontaminasi silang.
  5. Mendukung pemenuhan persyaratan mutu dan regulasi yang relevan.
  6. Menciptakan kondisi lingkungan yang dapat dipantau dan divalidasi.

Dengan demikian, kebutuhan clean room sebaiknya ditentukan berdasarkan analisis risiko dan kebutuhan proses, bukan hanya berdasarkan jenis industrinya.

Alasan Utama Clean Room Sangat Vital bagi Pabrik

1. Menjaga Integritas dan Kualitas Produk

Kontaminasi partikel dapat memengaruhi kualitas produk, terutama pada proses manufaktur yang sangat sensitif terhadap lingkungan.

Pada industri farmasi dan alat kesehatan tertentu, misalnya, pengendalian lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya mencegah kontaminasi selama proses produksi.

Sementara itu, pada industri semikonduktor dan elektronik, partikel berukuran sangat kecil dapat mengganggu proses fabrikasi komponen yang memiliki struktur mikroskopis.

Karena itu, clean room berfungsi menciptakan lingkungan yang lebih terkendali sehingga risiko kontaminasi terhadap produk dan proses dapat diminimalkan.

2. Mendukung Pemenuhan Regulasi dan Persyaratan Mutu

Industri tertentu memiliki persyaratan regulasi dan standar mutu yang mengharuskan produsen mengendalikan kondisi lingkungan produksi sesuai karakteristik prosesnya.

Dalam industri farmasi, misalnya, prinsip GMP (Good Manufacturing Practice) dan ketentuan CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) dapat mencakup persyaratan terkait kebersihan, pengendalian kontaminasi, tata udara, dan lingkungan produksi.

Untuk industri alat kesehatan, ISO 13485 berfokus pada sistem manajemen mutu untuk perangkat medis. Namun, penerapan ISO 13485 tidak secara otomatis berarti seluruh proses manufaktur alat kesehatan harus dilakukan di dalam clean room.

Kebutuhan clean room tetap bergantung pada jenis produk, proses produksi, risiko kontaminasi, serta persyaratan yang berlaku.

3. Mengurangi Risiko Kegagalan Produksi akibat Kontaminasi

Kontaminasi dapat menyebabkan produk tidak memenuhi spesifikasi atau proses harus dihentikan untuk investigasi dan tindakan korektif.

Clean room membantu mengendalikan salah satu faktor lingkungan yang dapat berkontribusi terhadap risiko tersebut.

Namun, clean room bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan proses produksi. Pengendalian personel, material, prosedur kerja, sanitasi, peralatan, dan sistem mutu juga berperan penting.

4. Mengontrol Tekanan Udara dan Arah Pergerakan Kontaminan

Salah satu aspek penting dalam desain clean room adalah differential pressure atau perbedaan tekanan antar-ruangan.

Pengaturan tekanan dapat digunakan untuk membantu mengendalikan arah pergerakan udara dan mengurangi risiko kontaminasi silang.

Pada area tertentu, tekanan positif dapat digunakan untuk membantu melindungi area bersih dari masuknya udara dari area sekitarnya. Sebaliknya, tekanan negatif dapat diterapkan ketika tujuan utamanya adalah menahan kontaminan agar tidak keluar dari area tertentu.

Konfigurasi tekanan harus ditentukan berdasarkan fungsi ruangan dan strategi pengendalian kontaminasi.

5. Mendukung Konsistensi Proses dan Kepercayaan B2B

Clean room yang dirancang, dikualifikasi, dan dipelihara dengan baik dapat menjadi bagian dari sistem jaminan mutu perusahaan.

Bagi perusahaan yang bekerja dengan mitra B2B, keberadaan fasilitas dengan sistem pengendalian lingkungan yang terdokumentasi juga dapat membantu menunjukkan bahwa proses produksi dilakukan dengan pendekatan yang terukur dan terkendali.

Hal ini menjadi semakin relevan ketika perusahaan harus memenuhi spesifikasi pelanggan atau persyaratan mutu tertentu.

Hal yang Jarang Dibahas dalam Pengelolaan Clean Room

Pembahasan mengenai clean room sering kali hanya berfokus pada jumlah partikel. Padahal, performa sebuah clean room dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis yang saling berkaitan.

A. Air Changes per Hour (ACH)

Air Changes per Hour (ACH) menunjukkan berapa kali volume udara dalam suatu ruangan secara teoritis digantikan oleh udara yang disuplai dalam satu jam.

ACH merupakan salah satu parameter yang dipertimbangkan dalam desain sistem tata udara pada clean room. Namun, ISO 14644-1 tidak menetapkan angka ACH tertentu untuk setiap kelas ISO.

Nilai ACH ditentukan berdasarkan berbagai faktor, seperti:

  • Tingkat kebersihan yang ditargetkan
  • Ukuran dan volume ruangan
  • Jumlah personel
  • Aktivitas di dalam ruangan
  • Beban kontaminasi
  • Pola aliran udara
  • Sistem filtrasi
  • Persyaratan proses

Oleh karena itu, tidak tepat jika suatu kelas ISO secara langsung dikaitkan dengan angka ACH tertentu tanpa mempertimbangkan desain keseluruhan sistem.

B. Pemilihan Material Dinding: PIR/PU vs. Honeycomb Panel

Material konstruksi juga menjadi bagian penting dalam desain clean room karena permukaan interior harus mendukung pengendalian kontaminasi dan kemudahan pembersihan.

Beberapa jenis panel yang dapat digunakan antara lain:

1. Polyisocyanurate (PIR) Panel

PIR dapat digunakan ketika dibutuhkan kombinasi antara insulasi termal dan karakteristik ketahanan terhadap api tertentu, sesuai spesifikasi produk dan desain bangunan.

2. Polyurethane (PU) Panel

Panel PU dikenal memiliki karakteristik insulasi termal yang baik dan dapat digunakan dalam berbagai aplikasi ruang terkendali, tergantung spesifikasi dan kebutuhan proyek.

3. Aluminum Honeycomb Panel

Panel aluminium honeycomb memiliki struktur ringan dan permukaan yang dapat dibuat rata serta mudah dibersihkan. Pemilihannya perlu mempertimbangkan kebutuhan struktural, konstruksi, dan persyaratan kebersihan fasilitas.

Pemilihan panel sebaiknya tidak hanya berdasarkan materialnya, tetapi juga mempertimbangkan sambungan panel, finishing permukaan, ketahanan terhadap bahan kimia pembersih, kemudahan sanitasi, dan kebutuhan operasional.

C. Dinamika Aliran Udara: Unidirectional vs. Non-Unidirectional

Pola aliran udara merupakan faktor penting dalam mengendalikan distribusi dan pembuangan partikel.

Unidirectional airflow merupakan aliran udara yang bergerak secara relatif seragam dan searah melalui area tertentu. Konsep ini dapat digunakan pada area dengan kebutuhan pengendalian partikel yang sangat ketat.

Sementara itu, non-unidirectional airflow menggunakan prinsip pencampuran dan pengenceran udara untuk membantu mencapai tingkat kebersihan yang ditargetkan.

Pemilihan pola aliran udara harus disesuaikan dengan kebutuhan proses dan tingkat pengendalian kontaminasi yang diperlukan.

Perlu diperhatikan bahwa ISO Class 5 tidak secara otomatis berarti suatu area harus menggunakan pola aliran udara tertentu, karena desain sistem tetap bergantung pada kebutuhan proses dan konfigurasi fasilitas.

Memahami Klasifikasi ISO 14644-1

Salah satu standar penting dalam pengelolaan clean room adalah ISO 14644-1, yang mengatur klasifikasi kebersihan udara berdasarkan konsentrasi partikel airborne pada ukuran partikel tertentu.

Semakin kecil angka kelas ISO, semakin ketat batas konsentrasi partikelnya.

Contoh batas konsentrasi partikel untuk ukuran ≥0,5 µm adalah:

Kelas ISOBatas partikel ≥0,5 µm/m³Contoh penggunaan
ISO Class 53.520Proses manufaktur yang sangat sensitif terhadap partikel
ISO Class 635.200Proses presisi tertentu
ISO Class 7352.000Area produksi atau proses yang membutuhkan lingkungan terkendali
ISO Class 83.520.000Area produksi dan persiapan dengan kebutuhan kebersihan yang lebih rendah

Contoh penggunaan tersebut bukan berarti setiap industri atau proses tertentu secara otomatis harus menggunakan kelas ISO tersebut. Penentuan kelas clean room harus mempertimbangkan kebutuhan proses, risiko kontaminasi, persyaratan pelanggan, serta regulasi yang berlaku.

ISO Class 5 Bukan Berarti Sama dengan Grade A atau Grade B GMP

Hal ini penting untuk diperhatikan ketika membahas clean room farmasi.

ISO 14644-1 dan klasifikasi Grade A/B dalam GMP memiliki konteks dan tujuan yang berbeda.

ISO 14644-1 mengklasifikasikan kebersihan udara berdasarkan konsentrasi partikel airborne, sedangkan klasifikasi area dalam GMP digunakan dalam kerangka pengendalian lingkungan dan proses pembuatan obat.

Karena itu, istilah ISO Class 5 tidak sebaiknya digunakan sebagai sinonim langsung untuk Grade A atau Grade B.

Dalam proyek clean room farmasi, standar ISO dan persyaratan GMP perlu dilihat secara bersamaan sesuai fungsi dan risiko masing-masing area.

Bagaimana Menentukan Kelas Clean Room yang Tepat?

Tidak semua pabrik membutuhkan clean room dengan tingkat kebersihan yang sama.

Beberapa faktor yang perlu dianalisis antara lain:

1. Karakteristik Produk

Apakah produk sensitif terhadap partikel, mikroorganisme, kelembapan, atau kontaminan tertentu?

2. Proses Produksi

Proses apa yang dilakukan di dalam ruangan dan pada tahap mana risiko kontaminasi paling tinggi?

3. Jumlah dan Aktivitas Personel

Personel merupakan salah satu sumber utama kontaminasi di dalam clean room. Karena itu, jumlah orang dan aktivitasnya perlu diperhitungkan dalam desain clean room.

4. Persyaratan Regulasi dan Pelanggan

Persyaratan industri, regulasi, spesifikasi pelanggan, maupun standar internal perusahaan dapat menentukan tingkat pengendalian lingkungan yang diperlukan.

5. Sistem HVAC dan Filtrasi

Sistem HVAC, filter HEPA/ULPA, distribusi udara, tekanan ruangan, serta sistem kontrol perlu dirancang sebagai satu kesatuan.

Clean Room Bukan Sekadar Ruangan yang “Bersih”

Salah satu kesalahpahaman umum adalah menganggap clean room hanya sebagai ruangan dengan dinding panel dan filter HEPA.

Pada kenyataannya, clean room merupakan sebuah sistem pengendalian lingkungan yang melibatkan desain ruangan, HVAC, filtrasi, tekanan, aliran udara, material konstruksi, personel, prosedur operasional, hingga monitoring dan pemeliharaan.

Karena itu, desain clean room sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan proses dan analisis risiko, bukan sekadar mengejar kelas ISO tertentu.

Kesimpulan

Clean room memiliki peran penting bagi pabrik yang membutuhkan pengendalian kontaminasi dan kondisi lingkungan secara ketat. Penerapannya dapat membantu menjaga konsistensi proses, melindungi produk, serta mendukung pemenuhan persyaratan mutu dan regulasi yang relevan.

ISO 14644-1 menjadi salah satu acuan penting untuk mengklasifikasikan kebersihan udara berdasarkan konsentrasi partikel. Namun, standar tersebut bukan satu-satunya pertimbangan dalam merancang clean room.

Pemilihan kelas ISO, desain HVAC, sistem filtrasi HEPA/ULPA, tekanan ruangan, pola aliran udara, hingga material panel harus disesuaikan dengan kebutuhan proses dan karakteristik fasilitas.

Jika perusahaan Anda membutuhkan perencanaan, pembangunan, atau renovasi clean room, pastikan desain dilakukan oleh kontraktor yang memahami kebutuhan teknis dan persyaratan fasilitas ruang bersih.

MKP menyediakan layanan kontraktor clean room untuk membantu merancang dan membangun fasilitas clean room sesuai kebutuhan proses dan spesifikasi proyek Anda. Klik tautan ini untuk informasi selengkapnya!